banner 728x250
BERITA  

Tak Benar Lukas Enembe Punya Tambang Emas Pribadi di Tolikara

banner 120x600
banner 468x60

Jayapura, Papua Terbit, – Masyarakat Adat Tolikara yang tergabung dalam Forum Lembaga Pertambangan membantah keras pernyataan Pengacara Roy Rening yang menyampaikan bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe mempunyai tambang emas pribadi di wilayah Tolikara.

Sebelumnya, di sampaikan Pengacara Gubernur Papua Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening mengatakan bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe mempunyai tambang emas di wilayah Kabupaten Tolikara, Papua.

banner 325x300

Stefanus Roy Rening mengatakan, dokumen perizinan tambang tersebut sedang diurus dan akan segera diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk proses hukum
.
“Tidak benar Gubernur Papua Lukas Enembe mempunyai tambang pribadi di wilayah Tolikara. Para orang tua pemilik ulayat di Tolikara tak menerima pernyataan Stefanus Roy Rening tersebut,” tegas Ketua Forum Lembaga Pertambangan Masyarakat Adat Kembu, Wanui, Kasuwi Kabupaten Tolikara, Dolfinus Weya, didampingi Sekretaris Dailes Wenda di Waena, Kota Jayapura, Senin (26/9/2022).

Turut hadir diantaranya Tokoh Intelektual Tolikara Musa Erelak, Perwakilan Senior Tolikara Rusli Wandik, SKom, Anggota DPRD Mamberamo Tengah Israel Ust, Orang Tua Pemilik Hak Ulayat James Weya dan Perwakilan Mahasiswa Tolikara Freddy Kogoya.

Dolfinus menegaskan, Stefanus Roy Rening menyampaikan bahwa Lukas Enembe mempunyai tambang emas di Kampung Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara. Padahal pihaknya juga sebagai pemilik hak ulayat yang berada dibawahnya.

Menurutnya, Stefanus Roy Rening seharusnya tak berbicara semaunya sendiri sebelum berkoordinasi secara baik dengan orang tua, keluarga yang mempunyai hak ulayat.

Pasalnya, terang Dolfinus, wilayah yang kaya hasil tambang emas di Tolikara ini dimiliki 15 suku, diantaranya Suku Wina, Gem, Taborta, Lani, Wano, Bauri, Bagusa.

Karena itu, tutur Dolfinus, jika memang hendak mengurus izin tambang, maka 15 suku pemilik ulayat ini harus dilibatkan dan duduk bersama untuk membicarakan hal ini.

“Tidak bisa satu orang mengambil alih dengan mengatasnamakan semua suku yang ada di sana. Kemudian kita sepakati bersama dalam MoU, untuk membuka usaha tambang di wilayah ini,” terangnya.

Dikatakan pihaknya tak ingin persoalan tambang emas di Tolikara ini terjadi hal – hal yang tak diinginkan, seperti konflik horizontal yang di Timika, Paniai dan Nabire, Intan Jaya, Nduga dan lainnya.

“Kami sangat menghargai sosok Lukas Enembe sebagai senior dan orang tua, tapi pernyataan Stefanus Roy Rening kami tidak terima,” tukasnya.

Menurut Dolfinus, apa yang disampaikan pengacara Lukas Enembe sudah melangkahi para pemilik ulayat ada di wilayah sebelah yang dibatasi dengan Kali Toli.

“Posisi titik tambang emas yang ada ini bukan di Mamit tempat asal Gubernur Papua Lukas Enembe. Tapi posisinya di wilayah Kembu, yang mempunya hak untuk berbicara masalah pertambangan ini adalah kami yang sekarang kita ada bicara dan tuntut ini,” pungkasnya.

ia menambahkan, saat ini tambang emas ini masih dikelola secara tradisional dengan cara mendulang menggunakan wajan(Redaksi)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *