Mengenang 1 Tahun Paul Fonataba Mahasiswa Kedokteran Uncen, Keluarga Tuntut Keadilan

0

Jayapura, Papua Terbit,– tepat setahun mengenang kepergian Paul Fembri G. Fonataba, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Orang tua almarhum Gidion Fonataba dan Sarah masih belum ikhlas menerima kematian anak semata wayangnya

” saya belum ikhlas atas kematiannya dan akan tuntut keadilan kepada oknum dokter sebagai tim penguji,”kata Gidion Fonataba di rumah BPN Dok IX Tanjung Ria Jayapura, Rabu (13/1/22)

Gidion menilai anaknya meninggal dunia dinilai tidak wajar diduga akibat tekanan dari salah satu penguji dalam ujian State mata oleh dokter inisial EK di Rumah Sakit Dok II Jayapura, dalam mengikuti Coas.

Apalagi gidion menyebutkan, walaupun oknum dokter ini telah tidak digunakan sebagai tim penguji di Fakultas Kedokteran Uncen lagi, namun ia masih belum ikhlas dan puas karena oknum dokter ini masih bekerja sebagai dokter di Rumah sakit.

seharusnya,kata Gidion dari pihak Ikatan Dokter maupun pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kesehatan Papua harus ada sanksi yang tegas karena telah menyalahi kode etik sebagai seorang dokter. Oleh karenanya profesi dokter yang ia sandang harus dicabut dan tidak menjadi pegawai.

“Perjuangan saya untuk mencari keadilan tetap saya lakukan sampai kapanpun dan dimanapun, walaupun di tingkat Provinsi Papua saya ditelantarkan tidak digubris sama sekali nanti saya akan tempuh sampai ke Kementerian Kesehatan karena ini anak semata wayang saya yang sudah meninggal, sudah tidak ada harapan apa-apa untuk saya. Hanya Saya butuh keadilan yang se adil adilnya,”ucapnya

Gidion mengakui, dirinya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan meninggalnya anak semata wayangnya, sudah minta bantuan LBH Papua, Ombudsman papua, Dinas Kesehatan Papua, Inspektorat Papua, pemberitaan di media massa, niat sudah pernah menyurat ke Menpan RB namun tidak ada jawaban yang diharapkan hanya di pontang-panting ke sana ke sini sehingga ini merugikan waktu, tenaga dan pikiran.

“saya duga jangan sampai oknum dokter ini mempunyai kekuatan yang bisa membungkam semua institusi karena pengaruh yang dimiliki bersama suaminya, sehingga Gidion mengaku selama ini usahanya dalam mencari keadilan tidak digubris dengan baik,”ujarnya

Untuk itu, dengan sekuat tenaga dan sisa hidupnya ia akan memperjuangkan keadilan sampai ke pusat, menurutnya dokter ini juga mempunyai anak jika mengalami masalah seperti ini apa yang akan dilakukan apalagi ini anak semata wayang dan mereka juga sudah tua semua secara psikologis harusnya seorang dokter bisa memahami hal ini ini dan almarhum sendiri adalah anak yang pintar penurut Kenapa harus dipersulit untuk menjadi seorang dokter ini juga orang asli Papua.(Epen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here