Ricuh Mahasiswa di Surabaya, Pemuda Adat Papua Minta Semua Pihak Mencari Solusi

0

Jayapura, PapuaTerbit.com – Pengepungan asrama mahasiswa Papua di Kalasan, Kota Surabaya oleh ratusan massa dari organisasi masyarakat (ormas) pada Jumat (16/8) lalu, mendapat sorotan dari organisasi Pemuda Adat Papua(PAP).

Ketua umum Pemuda Adat Papua (PAP) Jan Christian Arebo merasa prihatin atas aksi unjuk rasa yang berujung pada bentrok itu. Ia menyayangkan cara mahasiswa melakukan aksi massa yang menurutnya terkesan emosional dan arogan.

“saya menyesal lambannya kepolisian memberikan rasa aman saat peristiwa persekusi terhadap mahasiswa Papua oleh ormas itu berlangsung,”kata Arebo di Kota Jayapura, Senin (19/8/2019).

Berdasarkan Informasi yang tersebar di media sosial, peristiwa itu ditengarai adanya bendera merah putih yang dibuang ke selokan oleh orang tak bertanggungjawab. Kemudian informasinya menyebar di berbagai media sosial dan berbuntut persekusi.

“Saya prihatin atas aksi mahasiswa Papua di Surabaya, Jumat lalu. Seharusnya tidak begitu cara teman-teman mahasiswa menyampaikan aspirasinya apalagi dalam rangka menyambut HUT RI yang ke 74,” tuturnya

Apalagi, peristawa itu jangan salahkan polisi, karena memang sudah tugas mereka untuk pengamanan. Kalau sampai mereka diserang tidak mungkin cuma diam saja tapi untuk membela diri,” lanjutnya.

Menurutnya, aksi massa oleh mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang sebaiknya disampaikan dengan mengedepankan etika, dan tidak mengganggu ketertiban umum, apalagi menyinggung perasaan warga sekitarnya.

Meski demikian, Arebo meminta kepada Polrestabes Surabaya untuk mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam penanganan kasus ini, baik dalam penyidikan terhadap mahasiswa yang diamankan dari lokasi demonstrasi dan juga dari asrama.

“Siapa biang kericuhan dibalik aksi, maka dialah yang diamankan dan di proses. Jangan satu orang yang berbuat tetapi semua kena getahnya. Kita harus sama-sama belajar mencari solusinya seperti kasus mahasiswa Papua di Jogja pada 2015 lalu,” ujar Arebo seraya mendorong Gubernur Papua, Lukas Enembe untuk membangun komunikasi dengan pihak Pemerintah Jawa Timur guna mencari solusi terbaik dalam penyelesaian kasus itu.

Seperti dilansir detik.com, ricuh di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya, berlangsung pada Jumat (16/8) malam hingga Sabtu (17/8) sore. Polisi berencana menjemput oknum mahasiswa asal Papua di asrama terkait insiden pembuangan bendera merah putih ke selokan. Namun, sudah satu jam ditunggu, mahasiswa itu tak mau keluar.

Lantaran peringatannya tak diindahkan, polisi akhirnya memilih untuk melakukan tindakan tegas dengan menembakkan gas air mata. Terdengar ada hampir 20-an tembakan yang menggema.

Polisi juga menggeledah asrama dan menemukan sebuah tas dengan desain logo bintang kejora. Dalam penggeledahan ini, polisi juga menemukan busur dan anak panah. 43 orang sempat diamankan dan sudah dipulangkan pada Minggu (19/8) sore.

Gubernur Papua, Lukas Enembe mengaku prihatin atas peristiwa persekusi atau pelecehan verbal terhadap warganya yang sedang studi di Surabaya. Ia meminta kepolisian bersikap adil dan profesional dalam menangani kasus kericuhan tersebut.

“Aparat keamanan diharapkan untuk tidak melakukan pembiaran atas tindakan persekusi atau main hakim sendiri oIeh kelompok atau individu, yang dapat melukai hati masyarakat Papua. Hindari adanya tindakan-tindakan menganggu represif yang dapat menimbulkan korban iiwa, kegaduhan politik, dan rasa nasionalisme sesama anak bangsa,” kata Gubernur Enembe dalam keterangan pers di Gedung Negara, Kota Jayapura, Minggu (18/8) malam.

Sementara itu, Arebo meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua yang membidangi aset pemerintah di luar daerah untuk mengambil langkah tegas dalam menangani penghuni asrama mahasiswa yang tak jelas status kemahasiswaannya.

Menurut Ketua Umum Pemuda Adat Papua masa tugas 2019-2022 itu, evaluasi ini berlaku bagi asrama mahasiswa Papua di tiap-tiap wilayah di Indonesia. Tujuannya, untuk membentuk karakter mahasiswa yang intelek dan beretika.

“Selama ini bukan hanya mahasiswa murni yang tinggal. Adanya orang yang datang mengadu nasib ke Surabaya dan tinggal di asrama itu menjadi persoalan besar,” pungkasnya.

Untuk itu, pemerintah provinsi Papua diminta bekerjasama dengan pemerintah Jawa Timur untuk memberikan pembinaan bagi mahasiswa sekaligus memulihkan citra mahasiswa Papua yang sedang studi di Jawa Timur. (Pt/En)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here